Kewajiban Anak Berbakti kepada Kedua Orangtua

Beranda Kewajiban Anak Berbakti kepada Kedua Orangtua

(Materi Khutbah Jumat di SMK Prajnaparamita Malang)
Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti
kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang
telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang
sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Mengingat
pentingnya masalah berbakti kepada kedua orang tua, maka masalah ini
perlu dikaji secara khusus.
Jalan yang haq dalam menggapai ridha
Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain.

Birrul
walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah
penting dalam Islam. Di dalam Alquran, setelah memerintahkan manusia
untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti
kepada orang tuanya.

Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ
كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا
قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabb-mu
telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya
kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada
keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan
ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu
terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku,
sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada
waktu kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23-24).

Dalam surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka
mengajak kepada kekafiran:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ
لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ
مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Kami
wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang
tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan
sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah
engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku
beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabuut
(29): 8)

Kaum Muslimin rahimakumullah,
Di antara keutamaan amalan birrul walidain adalah:
Birrul Walidain Merupakan Amal Yang Paling Utama
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟
قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ
فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan
shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi
menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi:
‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (HR. Bukhari dan
Muslim)

Ridha Allah Bergantung Kepada Ridha Orang Tua
Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا
الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah
bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada
kemurkaan orang tua” (HR. Bukhari)

Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Kaum Muslimin rahimakumullah,

Ada sebuah kisah, dimana secara logika kesulitan tersebut sulit untuk
dipecahkan atau bahkan tidak bisa dipecahkan menurut perhitungan
manusia, namun lantaran amalan berbakti kepada kedua orang tua,
kesulitan itu mendapatkan jalan keluar. Kisah tentang hal ini diriwayat
dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengenai tiga orang yang terjebak
dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu
bapaknya.

Haditsnya sebagai berikut:
انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ
رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ
فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا
الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ
إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ
مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ
أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ
شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا
غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ
قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ
أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا
فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ
ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه
الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا
“ …Pada suatu hari tiga orang
dari ummat sebelum kalian sedang berjalan, lalu kehujanan. Mereka
berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka berada di
dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi mulut gua.
Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Ingatlah amal terbaik yang
pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan
bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah
menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka berkata:
‘Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut
usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. Aku
menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan
memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku
harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga
pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur,
lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap
aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur
pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan
aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun
sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku.
Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku
bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum
lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini
adalah perbuatan yang baik karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah
mulut gua ini.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itu pun bergeser
sedikit..” (HR. Bukhari (no. 2272), Fathul Baari (IV/449), Muslim (no.
2743).

Akan Diluaskan Rizki Dan Dipanjangkan Umur
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Orang-orang pada hari ini berbicara bahwa sedekah melancarkan rezeki,
pendapat ini disebarkan secara luas, padahal ada amalan yang lebih agung
yang bisa melancarkan rezeki seseorang yaitu berbakti kepada kedua
orang tua. Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan di-panjangkan umurnya,
maka hendaklah ia menyam-bung silaturrahimnya.” (HR. Bukhari (no. 5985,
5986), Muslim (no. 2557), Abu Dawud (no. 1693))

Dalam
silaturahmi, yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada orang tua
sebelum kepada yang lain. Banyak di antara saudara-saudara kita yang
sering berkunjung kepada teman-temannya, tetapi kepada orang tuanya
sendiri jarang, bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil, dia
selalu bersama orang tuanya. Sesulit apa pun harus tetap diusahakan
untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua, karena dekat kepada
keduanya -insya Allah- akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umurnya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ

Comment