Dalam rangka acara 3 Dekade Teater K2 Universitas Islam Negeri
(UIN) Maliki Malang. Teater K2 mengadakan festival Monoplay tingkat SMA / Sederajat se-Malang
Raya. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 1-2 Oktober 2016 pukul 08.00-16.00 WIB di Gedung
C lantai 3 UIN MALIKI MALANG
Ini adalah kali pertama Teater SAE SMK Prajnaparamita Malang berpartisipasi dalam
acara festival teater se-Malang Raya.
Teater SAE mementasakan monolog TUA karya Putu Wijaya. Sebelum acara festival
tersebut, Pementasan Monolog TUA dipentaskan terlebih dahulu di sekolah SMK Prajnaparamita
Malang ussai upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2016
Semoga Teater SAE SMK Prajnaparamita semakin baik, semakin kreatif dan tetap
semangat.
Naskah Monolog TUA Karya Putu Wijaya
Di depanku berdiri seseorang yang barangkali aku sudah kenal benar. Mungkin juga tidak. Aku
tidak tahu siapa namanya. Perawakannya sederhana. Ia tidak membawa apa-apa. Matanya juga hanya
dua, dengan sorot yang biasa. Bahkan ia tersenyum manis dan mengatakan:
Apa kabar?
Tapi aku cemas. Aku merasakan ada bahaya dalam ketenangan sedang merambat perlahan-lahan
hendak menjangkau leherku. Aku merasa terpepet ke sudut dengan sopan dan kemudian pada
akhirnya nanti dengan lemah-lembut akan diminta untuk menyerah.
Aku tidak siap untuk menyerah. Karena aku merasa masih perlu untuk menunjukkan, kalau diberi
kesempatan lebih lama, mungkin aku sanggup bekerja lebih baik, termasuk memperbaiki
kekeliruan-kekeliruanku di masa yang lalu. Sayangnya, waktu tidak bisa menunggu.
Orang itu bertambah dekat.
Akhirnya aku terpaksa mambela sebelum diserang. Aku memanggil – ya Allah apa yang harus aku
ambil? Di sana hanya ada sebuah kursi. Kursi itu terpaksa aku angkat. Kemudian aku lemparkan
kursi itu ke arah orang itu. Kena. Tepat. Muka langsung terluka. Darah menetes dari dahinya,
masuk ke dalam matanya. Matanya itu terpejam, lalu darah tergelincir ke atas pipi bercampur
dengan air mata.
Tetapi langkahnya tetap diayunkan menghampiriku.
Aku jadi panik. Aku berteriak minta tolong. Panik aku gapai telepon untuk memanggil polisi.
Tetapi ada orang bicara terus di dalam telepon. Dengan dongkol telepon itu aku lemparkan ke
mukanya.
Tepat mengenai hidung orang itu.
Hidung itu luka, darah menetes dari hidung masuk ke dalam mulutnya. Mulut itu bergerak, lalu
dia meludah, dahak yang kental.
Aku mundur, merapat ke tembok. Dia mulai mendesak. Aku beringsut ke sudut. Sekarang aku
mencoba menendang, kemudian memukul. Sesudah itu menggigit. Aku kalap. AKu ngamuk. Aku tak
melihat apa-apa lagi. Orang itu sudah terlalu dekat. Baunya terasa. Tubuhnya menyentuh. Aku
dilandanya.
Tidak!
Aku gepeng. Aku coba juga meronta, tapi tak berdaya. Tak ada gunanya. Aku coba lagi berteriak,
tapi suaraku juga sudah habis. Tenagaku terkuras. Akhirnya orang itu masuk ke dalam tubuhku.
Ia masuk ke dalam jantung. Ia masuk ke dalam kepala. Ia masuk ke perut, mengalir ke seluruh
tubuhku. Ia menusuk ke dalam sanubariku. Ia menjalari sukmaku. Aku menjerit dan melenting.
Ooo!
Lalu tiba-tiba saja aku merasa bahwa sebenarnya ia kenal betul siapa orang itu. Tiba-tiba saja
aku teringat masa mudaku. Lalu aku yakin benar bahwa orang itu adalah aku sendiri di waktu
masih muda.
Setelah aku yakin, bahwa aku sebenarnya sedang menghadapi diriku sendiri, aku keluar lagi.
Tapi sekarang aku melihat orang itu menjauh. Hanya punggungnya yang bidang saja nampak.
Kepalanya menatap ke arah depan. Aku tak dapat lagi melihat matanya yang polos, senyumnya yang
sumeh dan air mukanya yang jernih. Aku merasa seperti ditinggalkan.
Akhirnya aku berseru-seru memanggil.
Kembali ! Kembali ! Kembali !!
Tapi orang itu tidak kembali. Ia berjalan terus ke sana dengan langkah yang tetap.
Aku pun menangis. Aku telah kehilangan seorang kawan yang tadinya aku kira musuh. Tapi tangis
itu tidak menghiburku. Baru semenit menangis, aku buru-buru mengangkat mukaku lagi mencari
orang itu.
Ternyata orang itu sudah lewat.
Kemudian aku hanya bisa termenung. Aku mendengar suara lonceng gereja. Kini aku yakin bahwa
satu generasi telah melewatiku.
Jakarta, 25 November l978






